Selasa, 06 Februari 2018

Tentang Cahaya Itu

Bismillah. Ucapku lirih dalam hati. Beberapa menit lamanya kupandangi layar komputer. Pikiranku masih mengembara ke atas sana. Berusaha memilih satu kata yang pas. Satu kata yang menjadi penentu deretan kata selanjutnya yang akan aku tulis. Sulit menemukannya. Bukan karena aku tak punya ide yang akan kutuangkan, terlebih aku merasa tak pantas untuk menggambarkan satu sosok yang berani aku katakan, “Cahaya.”

Berdebar dada tatkala mulai mengetik huruf awal dari tulisan ini. Aku kembali mengumpulkan kotak-kotak kenangan yang aku punya tentangnya. Aku beranjak dari dudukku. Mengambil HP dan langsung masuk ke galeri. Aku sedang mencari. Dan akhirnya aku menemukannya. Sebuah foto beliau sedang berdiri di atas mimbar menyampaikan pidato selaku pimpinan pesantren. Aku masih ingat hari itu adalah hari aku menjadi salah satu peserta wisuda di tingkatan Madrasah Tsanawiyah Tahun 2011. Tak ada yang tahu, ternyata di hari itulah menjadi hari permohonan maaf yang tulus di akhir hayat beliau.



Saat paragraf ini ditulis, aku kembali terbayang hari tanggal 7 Februari 2012. Hari dimana kami dan pesantren menangis. Saat itu aku baru duduk di bangku kelas satu Madrasah Aliyah. Suara keras pengumuman dari Masjid Pesantren. Semua santri beserta guru tanpa banyak bercakap berhamburan. Hanya satu tempat yang akan dituju, rumah kediaman beliau, tepatnya di Mangkoso. Kami tiba, rumah itu sudah sesak dengan banyak orang. Suara tangis seakan saling berlomba. Aku kala itu duduk termenung, hatiku belum bisa percaya apa yang terjadi. Hatiku belum bisa menerima kenyataan kepergian beliau. Bahkan air mata sulit rasanya untuk aku jatuhkan. Bukan karena hatiku sudah keras dan tak menganggap beliau adalah hal luar biasa, tapi aku masih menimbang, aku masih memercayai, “Beliau masih ada, beliau masih ada.” Aku baru saja mencicipi bagaimana arti sebuah keikhlasan jika sudah menjelma dalam diri seseorang. Tapi... kepergian itu terasa begitu cepat bagiku.

Aku terisak menangis di kamar kecil ini. Sendiri. Ingin aku persembahkan tulisan kecil untuk mengenang, untuk mengabadikan, untuk mewakili isi hati yang selama ini belum tersampaikan. Momen yang teringat dalam hatiku adalah saat kelas satu Madrasah Aliyah. Saat aku memulai perjalanan baru selepas Madrasah Tsanawiyah. Memulai kebiasaan baru di lingkungan asrama putri. Tiga tahun aku menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah. Hanya sekadar mengikuti pelajaran di sekolah. Tidak dengan pendidikan yang sebenarnya yaitu pengajian di Masjid Pesantren selepas maghrib dan subuh. Aku bersyukur aku menjadi yang terbaik di kelasku, ternyata Allah masih memberiku kenikmatan untuk tetap mencicipinya. Namun satu hal yang tak bisa aku sembunyikan dibalik kenikmatan itu. Satu hal yang terkadang membuatku malu pada diri sendiri, adalah aku tidak tinggal dan berbaur bersama santriwati lain di Pesantren, tapi memilih tinggal bersama orang tua di rumah. Aku saat itu masih belum bisa melepaskan diri dari dekapan orang tua, terutama ibu. Aku bermalam di Pesantren mungkin hanya beberapa malam saja, dan setelah itu kembali lagi ke rumah. Pernah aku mendapatkan satu teguran keras dari Bapak karena kala itu aku meminta Ibu untuk menemani tidurku, “Sudah besar begitu masih mau tidur dengan Ibu.” Aku meneteskan air mata, tapi tetap saja aku tak ingin pisah dengan Ibu.

Seiring berjalannya waktu, bertambah pula usia. Memasuki bangku Madrasah Aliyah aku memantapkan hati untuk tinggal di Pesantren. Suasana suka, duka, canda, tangis, menjadi kebahagiaan tersendiri. Kegiatan-kegiatan kepesantrenan; shalat berjama’ah, pengajian kitab, training dakwah, belajar tambahan ba’da ashar seperti Nahwu, Sharaf, Al-Qur’an, dan lain-lain sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Aku mulai menikmati suasana itu.

Jam lima sore, semua santri dan santriwati diwajibkan untuk berada di Masjid. Rutinitas dzikir menjelang maghrib, beliau yang akan memimpinnya. Terkadang berjalan ke shaf belakang, tepatnya shaf santriwati. Suara khas dari tongkat beliau ketika berjalan membuat kami sedikit pun tak berani untuk bergerak, bahkan rasanya untuk bernafas pun sangat hati-hati. Kami merasa takut, padahal jiwa pemarah tak pernah kami temukan di sana. Dialah sosok yang begitu kami hormati dan segani. Aku memejamkan mata, berusaha tenggelam dalam bait dzikir seraya menikmati dentingan suara tongkat yang lewat di belakangku.

Tentang keikhlasan. Entah bagaimana caranya aku bisa menggambarkan itu semua. Yang aku lihat saat ini adalah buah dari keikhlasan itu. Semua guru, pembina, dan alumni yang mengabdikan diri untuk Pesantren merupakan salah satu cerminan bagaimana sosok beliau dalam ikhlas mengajar dan mendidik santrinya. Tak hanya sekadar bermodalkan tanggung jawab, karena bisa jadi dalam tanggung jawab itu sendiri masih tersimpan suatu beban, masih tersimpan suatu harapan untuk meminta hak, bahkan mungkin masih tersimpan keluhan-keluhan dalam menjalaninya. Tapi tidak halnya dengan sebuah “keikhlasan”, ia berpangkal dari sebuah ketulusan hati tanpa pamrih. Itu bisa terlihat bagaimana beliau tidak mengambil gaji sepeser pun. Pribadi siapa yang sanggup melakukan hal itu kecuali yang telah terpatri hati dan jiwanya hanya semata-mata untuk Rabbnya.

Jika menyebut Pesantren DDI Takkalasi, atau bahkan secara lengkap, “Pondok Pesantren al-Ikhlash ad-Dary DDI Takkalasi” maka yang paling kuat terkenang dan teringat adalah sosok kepemimpinan tangguh dari beliau. Sosok yang selalu kami rindukan, “AG. K. Muh. Fashih Musthafa, BA”. Keikhlasan tak perlu dibuktikan dengan mengumbar kelebihan yang dipunya di depan orang lain. Keikhlasan cukup dibuktikan melalui ucapan orang-orang yang telah mencicipinya. Aku bahkan tak perlu bertanya ke semua alumni yang pernah menimba ilmu dari beliau hanya sekadar untuk membuktikan apakah keikhlasan itu benar-benar ada dalam diri beliau atau hanya sekadar hoax. Cukup lihat bagaimana keadaan Pesantren tercinta saat ini. Sejak awal diletakkan batu pertama, sejak belum ada gedung resmi, sejak kata layak – mungkin – belum bisa dikatakan, hingga saat ini. Saat di mana gedung-gedung madrasah berdiri berjejeran, dari tingkat Raudhatul Athfal hingga Madrasah Aliyah. Bagaimana antusias para orang tua untuk memercayakan anak-anaknya belajar dan menetap di Pesantren. Bagaimana bantuan dan kepercayaan masyarakat adanya sebuah Pesantren DDI yang bernafaskan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah berdiri di Takkalasi. Kepercayaan masyarakat dan terutama orang tua santri tak akan mudah didapatkan begitu saja. Semua tak akan terlepas karena melihat seorang pemimpin yang begitu ikhlas yang dianggap akan memberikan perubahan besar untuk kemajuan Islam melalui Pesantren yang dipimpinnya. Melalui beliau, CAHAYA ilmu terpancar. Melalui beliau, CAHAYA keikhlasan bersinar. Dan melalui beliau, CAHAYA pesantren Takkalasi berkilau.

Aku melalui tulisan sederhana ini, hanya mampu mengucapkan “Dua Kata” untuk mewakili seluruh ucapan yang mungkin para warga DDI Takkalasi tercinta juga selalu ucapkan dalam hatinya. “Terima Kasih” untuk segala keikhlasan beliau dalam mendidik dan mengajarkan ilmunya kepada kami. Tak ada balasan serupa yang bisa kami berikan, terkecuali doa yang selalu terpanjatkan. Melalui ilmu yang telah beliau berikan, akan menjadi pahala yang tiada putusnya untuk beliau jika diamalkan kembali kepada orang lain. Harapan kami kepada seluruh guru yang saat ini mengajar dan mengabdikan diri untuk Pesantren tercinta, dan semua yang pernah meneguk ilmu di Takkalasi, semoga keikhlasan beliau dalam banyak hal, terutama dalam mengajar selalu teringat dalam benak. Tak hanya sekadar mengingat, tapi mencontoh apa yang telah beliau lakukan untuk Pesantren. Agar cita Pesantren “Akhlak dan Ilmu” bisa menjadi darah kental yang melekat pada jiwa Pesantren DDI Takkalasi.

Jakarta, 30 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KETIDAKMENGERTIANKU TENTANG SEMUA INI Part 2

Jika kamu pernah terluka karena sesuatu, kamu pasti tahu berapa lama pula waktu yang pernah kamu butuhkan untuk bangkit dari sana. Belum ...