Sabtu, 06 Februari 2016

PESAN DI BARIS AKHIR KERTAS


Bayangmu seakan menjadi hantu di setiap lamunanku.
Ingin kumenepi, namun rasa itu terlanjur ada.
Ingin kuberbalik, namun rindu itu terlanjur menyejukkan.
Tetes demi tetes hujan yang turun kuhitung.
Bagitu deras, namun tak mampu menghapus tapakmu dalam memoriku.
Jangankan lelap di malam hari yang terlupakan, ukiran senyum pun sulit tercipta.
Sikap yang begitu tenang selalu terpajang di setiap dinding udara yang kutatap.
Bahagia, namun menyesakkan aliran napas dan darah.
Duhai, Kanda.
Bicaralah pada angin yang berhembus.
Juga pada dedaunan pohon yang berjatuhan.
Setidaknya agar ada yang dapat kutemui atas kebimbangan ini.
Bimbang karena sosokmu yang mulai menemaniku membuka buku tentang kisah esok.
Di tengah hujan ini, tinta pena begitu lancar menapaki putih sucinya kertas.
Menuliskan dan menciptakan rangkaian kalimat yang sangat sederhana untukmu.
Mata mulai sembap, ternyata hujan jua di atas pipi.
Hingga membanjiri kertas itu dan akhirnya meleleh.
Duhai, Kanda.
Akankah ada benakmu yang akan menanyakan kabarku saat ini?
Begitu buruk, tak seperti kemarin.
Lamunan seringkali menjadi teman sejati di setiap detikku.
Diselingi secuil doa dan harapan, agar dikau meraih dan menggenggam rindu yang saat ini kusimpan.
Dibaris akhir kertas ini kutuliskan sebuah pesan,
Aku kemarin dan saat ini masih menjaga hati untukmu.


31 Desember 2013

2 komentar:

KETIDAKMENGERTIANKU TENTANG SEMUA INI Part 2

Jika kamu pernah terluka karena sesuatu, kamu pasti tahu berapa lama pula waktu yang pernah kamu butuhkan untuk bangkit dari sana. Belum ...