Bayangmu seakan
menjadi hantu di setiap lamunanku.
Ingin kumenepi, namun rasa itu terlanjur ada.
Ingin kuberbalik, namun rindu itu terlanjur menyejukkan.
Tetes demi tetes
hujan yang turun kuhitung.
Bagitu deras, namun
tak mampu menghapus tapakmu dalam memoriku.
Jangankan lelap
di malam hari yang terlupakan, ukiran senyum pun
sulit tercipta.
Sikap yang begitu
tenang selalu terpajang di setiap dinding udara yang kutatap.
Bahagia, namun
menyesakkan aliran napas dan darah.
Duhai, Kanda.
Bicaralah
pada angin yang berhembus.
Juga pada dedaunan
pohon yang berjatuhan.
Setidaknya agar ada
yang dapat kutemui atas kebimbangan ini.
Bimbang karena
sosokmu yang mulai menemaniku membuka buku tentang kisah esok.
Di tengah hujan ini,
tinta pena begitu lancar menapaki putih sucinya kertas.
Menuliskan dan menciptakan rangkaian kalimat yang sangat sederhana untukmu.
Mata mulai sembap,
ternyata hujan jua di atas pipi.
Hingga membanjiri
kertas itu dan akhirnya meleleh.
Duhai, Kanda.
Akankah ada benakmu
yang akan menanyakan kabarku saat ini?
Begitu buruk, tak
seperti kemarin.
Lamunan seringkali
menjadi teman sejati di setiap detikku.
Diselingi secuil doa
dan harapan, agar dikau meraih dan menggenggam rindu yang saat ini kusimpan.
Dibaris akhir kertas
ini kutuliskan sebuah pesan,
“Aku kemarin dan saat ini masih menjaga hati
untukmu.”
Keren kaak :D
BalasHapusMakasih, Dek
Hapus