Minggu, 10 Maret 2019

KETIDAKMENGERTIANKU TENTANG SEMUA INI Part 2

Jika kamu pernah terluka karena sesuatu, kamu pasti tahu berapa lama pula waktu yang pernah kamu butuhkan untuk bangkit dari sana. Belum sembuh luka itu, belum kering luka itu, muncul pula luka yang sama, yang membuat luka yang kemarin semakin menganga.
Cerita itu berlanjut. Setelah aku berusaha dengan susah payah untuk bangkit dari keterpurukanku. Dengan segala upaya aku mencoba mengikhlaskan proposal skripsiku yang pertama dengan judul, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Islami dalam Novel Api Tauhid Karya Habiburrahman El-Shirazy.” Entah jalan apa yang Allah hendak tunjukkan padaku, namun aku harus tetap berbaik sangka pada-Nya.
Proposal skripsi kedua dengan judul, “Konsep Pendidikan Akhlak dalam Perspektif Imam al-Ghazali (Studi Analisis Kitab Ihya Ulumuddin)” kembali kulengkapi bagian-bagian yang masih kosong, karena sebelumnya memang sudah ada yang aku selesaikan sedikit-sedikit. Aku mulai menata hati kembali, mencoba benar-benar mengikhlaskan walau aku sendiri tahu, tidak semudah itu melupakannya.
Sekali lagi, kalian berhak menilai seperti apapun diriku. Tapi aku juga berhak untuk menjelaskan secara detail runtutan kejadian itu. Agar aku tahu, siapa saja yang bersikap objektif, dan sebaliknya.
Hari Jum’at aku kembali memutuskan untuk ke kampus. Terlebih dahulu kutemui Kaprodi, menunjukkan proposal keduaku.
Kaprodi: “Gimana, udah ketemu Dekan?”
Kenapa aku harus ketemu Dekan? Aku tidak menjawab pertanyaan itu.
Aku: “Ini, Bu. Proposal kedua, saya udah bikin.” Beliau memerhatikan sejenak judul proposal itu, dan manggut-manggut.
Kaprodi: “Bagus. Ini kamu teliti dengan kitabnya?”
Aku: “Iya, Bu, beserta kitabnya.”
Kaprodi: “Bagus, kalau kamu bisa meneliti itu. Sekarang kamu ke Dekan dulu, cuma minta ACC judul, nanti Ibu kasi Dosen Pembimbing. Bilang, ini bu saya udah capek-capek bikin proposal.”
Aku: “Iya, Bu.”
Tak bisa kugambarkan perasaanku saat itu, entah kenapa aku terus saja merasa bahwa akan ada kejadian lagi di sini. Tapi pikirku, jika kejadian pertama berulang lagi, aku tidak tahu bagaimana lagi menyebut Dekan itu sebagai apa. Jika kalian menilai aku riya dan segala macamnya karena menyebut-nyebut kebaikan diri sendiri, itu lagi-lagi hak kalian untuk itu. Aku cuma ingin mengatakan aku berkali-kali jatuh sakit hanya karena kepikiran proposal ini terus. Sekitar satu jam aku menunggu.
Pertama-tama aku tunjukkan proposal pertama.
Aku: “Ini kemarin, Bu, yang Ibu minta menghadap ke Kaprodi, tapi beliau bilang saya tidak bisa meneliti ini karena penulisnya masih hidup. Terus beliau juga tanya saya ada proposal kedua? Saya bilang ada. Dan beliau bilang lagi ini bisa kamu teliti karena sudah meninggal (Imam al-Ghazali), kamu buat saja dulu.”
Dekan: “Terus sudah buat?”
Aku: “Sudah, Bu.” Kutunjukkan proposal kedua itu. Aku kira bakal langsung dikomentari dan apalah namanya itu, tapi tidak.
Dekan: “Kamu saya lihat suka nulis ya? Ibu lihat cara berbahasa kamu sudah bagus. Sudah punya berapa novel?”
Aku agak terkejut dengan pertanyaan itu. Loh, ada apa memangnya? Selama ini aku gak pernah memunculkan diri, menampakkan diri ke Dosen-Dosen.
Aku: “Baru satu, Bu.”
Dekan: “Nulis berapa lama itu satu novel?”
Aku: “Gak nyampe 6 bulan, Bu.”
Dekan: “Hebat itu. Sudah punya title penulis. Judul kamu ini sudah bagus, ini sudah ada konsepnya, tinggal bagaimana di lapangan, kaitkan ke lapangan.”
Kenapa lagi-lagi ke lapangan? Ini sudah jelas-jelas penelitian pustaka. Masa iya ada dua jenis penelitian dalam satu skripsi. Ini jadinya ketidakjelasan metodologi.
Aku: “Tapi kan ini meneliti Kitab Ihya, Bu.”
Dekan: “Iya, tetap Ihya, tapi coba kaitkan ke lapangan.”
Jika saja waktu itu aku punya jurus menghilang, ingin rasanya segera kugunakan. Pengen tiba-tiba menghilang mau ke Mars.
Dekan: “Itu kan ada, prinsip tri dharma. Di samping menulis, juga meneliti.”
Beliau menjelaskan agak panjang masalah itu. Dan tidak bisa kutuliskan di sini, karena banyak yang terlupa.
            Dekan: “Ini kan tinggal pindahin saja dari Kitabnya terus masukin skripsi.”
Whattttt? Memangnya seperti itu cara menulis skripsi? Sesimple itu? Ini bukan sekadar makalah untuk presentasi dalam kelas, tapi karya ilmiah yang dipertanggungjawabkan keasliannya, bahkan bisa jadi dinilai plagiat jika dalam tulisan itu terlalu banyak dicantumkan catatan kaki tanpa ada analisis dari penulis sendiri. Jujur, aku benar-benar tidak mengerti ini.
Dan entah kenapa aku merasa beliau terlalu memujiku waktu itu, terutama masalah penulis itu.
Dekan: “Sudah penulis, peneliti, kamu ambil program berapa juz di sini?”
Aku: “*0 juz, Bu.”
Dekan: “Ngafalinnya berapa lama?”
Aku: “Selama di sini, Bu.”
Dekan: “Nah itu, tinggal *0 juz lagi, selesai. Sudah penulis, peneliti, hafizah lagi. Begini nih sebenarnya yang Ibu cari. Kamu dapat beasiswa?”
Aku: “Gak, Bu.”
Dekan: “Gak deket-deket Ibu sih. Kemana aja? Coba deket Ibu pasti kamu dapat tuh.”
Selama di MTs, dan di MA, jujur aku paling malas dengan santri yang suka cari muka depan guru. Bukan berarti tidak menghormati guru ya, tolong dibedakan. Istilah sekarangnya caper sama guru. Dan itu yang aku lakukan sampai di bangku kuliah. Aku tidak suka terkenal dan segala macam istilahnya itu. Apalagi menonjolkan diri sendiri, dan kemampuan ke yang lain. NO. Itu sekali lagi bukan diriku. Jikalaupun ada yang menilai aku pintar, cerdas, dan apalah pokoknya, ya biarkan mereka sendiri yang menilai, yang intinya adalah bukan aku yang menjelaskan itu. Kalian tentu tahu satu ungkapan ini, Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi.
Aku tidak bisa banyak berkutik waktu itu, dikarenakan ini proposal baru yang kutulis, belum banyak membaca juga tentang itu. Jadinya aku tidak bisa berkata banyak. Aku mengakhiri pertemuan itu denga perasaan kacau kembali. Sepanjang jalan pulang ke kostan aku terus saja memutar otak. Bagaimana caranya ini?
Aku putuskan untuk membaca lagi terlebih dahulu. Baik itu skripsi, jurnal, ataupun tesis yang meneliti tentang pemikiran al-Ghazali. Aku mulai berpikir, mungkin penelitian ini bisa dikaitkan dengan lapangan, dengan cara merelevansikan konsep akhlak al-Ghazali ini di Pesantren. Hanya sekadar menunjukkan bahwa konsep ini masih dipakai hingga saat ini. Atau alternatif lainnya mungkin dengan peraturan perundang-undangan.
Sore hingga malam, aku terus saja membaca. Dan beberapa kesimpulan sudah ada di tanganku.
Tibalah esoknya aku mulai percakapan lagi lewat WA.
Aku: “Assalamualaikum. Ibu saya N****. Kalau konsul ke Ibu di WA, boleh gak bu?”
Dekan: “Boleh.”
Aku: “Ibu. Judul saya kan ini, (sambil kufotokan cover proposal), kata Ibu kemarin, dikaitkan ke lapangan. Ini kan penelitian pustaka ya bu, Library Research. Jadi, kalaupun mau dikaitkan di lapangan, mungkin opsi lainnya ada di teknik pengumpulan data, yaitu dokumentasi dan wawancara. Tapi masalahnya lagi, Bu, penelitian ini adalah penelitian pemikiran tokoh/studi tokoh, dalam kaidah Metodologi Penelitian kalau penelitian itu adalah penelitian studi tokoh, maka teknik pengumpulan datanya hanya bisa dilakukan dengan cara dokumentasi, tidak boleh ada wawancara ataupun observasi, dikarenakan pemikiran tokoh yang diteliti sudah meninggal. Boleh saja wawancara, tetapi tokoh itu harus masih hidup. Jadi, saya mengambil inisiatif lain, Bu. Mungkin saja kalau misalnya konsep Imam al-Ghazali ini dikaitkan dengan Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, SISDIKNAS. Bagaimana, Bu.”
Jika kalian ingat, isi perbincangan aku dengan Kaprodi, yang mengatakan kalau aku tidak boleh meneliti Novel Api Tauhid karena Kang Abik masih hidup. Aku rasa jawabannya di sini. Tapi kesimpulanku tetap sama, penelitian Novel kemarin adalah bukan studi tokoh, bukan meneliti pemikiran tokoh, tapi aku meneliti Nilai-Nilai atau Pesan-Pesan akhlak dalam Novel itu. Silahkan berkesimpulan sendiri.
            Dekan: “Jadi kalimatnya gimana?”
            Aku: “Kalau misalnya dimasukkan ke dalam judul mungkin bunyinya seperti ini, Bu Konsep Pendidikan Akhlak dalam Perspektif Imam al-Ghazali dan Relevasinya terhadap Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia (Studi Analisis Kiyab Ihya Ulumuddin). Tapi kalau menurut saya, Bu, jika judulnya seperti ini, mungkin agak terlalu bagaimana ya, Bu, bisa membuyarkan fokus penelitian awal yang ingin meneliti pemikiran Imam al-Ghazali tentang Konsep Pendidikan Akhlak. Karena fokus penelitiannya adalah kitab Ihya Ulumuddin, dan tidak sesederhana mungkin dengan yang Ibu maksud, (sambil kumasukkan emoticon tersenyum) tidak hanya sekadar kitab ini saja, tapi kitab Ihya ini adalah sumber primer (utama), sumber sekunder lainnya ada kitab-kitab beliau tentang akhlak juga, seperti Minhajul Abidin, Ayyuhal Walad, dll. Jadi saya ambil opsi lain, cukup menjadi sub bab di bab 4 tentang pengkaitan dengan SISDIKNAS.”
Kukira beliau yang akan menjawab itu, ternyata beliau lemparkan ke Dosen lain, yang dominannya mengerti tentang peraturan perundang-undangan.
          Dekan: “Ini lagi-lagi harus dihubungkan ke standar isi Mata Pelajaran Akhlak. Konsep Akhlaknya Gozali apa? Mungkin sama atau sudah ada. Dan juga harus baca Peraturan Menteri Agama nomor 167, 207 tahun 2014 tentang Kurikulum PAI dan Bahasa Arab. PMA atau KMA.”
            Aku: “Berarti jatunya ke peraturan Kemenag tentang kurikulum PAI, Bu? Bukan SISDIKNAS.”
            Dekan: “Iya, kamu baca dulu ya. Sudah dibaca belum?”
            Aku: “Peraturan-peraturan itu belum, Bu. Karena baru kepikiran tadi kalau memang harus dikaitkan dengan sekarang, say abaca dulu, Bu.”
Asal kalian tahu, ini bukan berarti aku mau meneliti tentang Peraturan itu, tapi hanya sekadar memberikan alternatif untuk mendukung penelitian pustaka ini. Walaupun sudah sangat cukup, bahkan sangat-sangat cukup hanya dengan penelaahan kitab Ihya Ulumuddin.
            Dekan: “Oke baca dulu.”
Dengan segera kubuka Google, dan download Keputusan Menteri Agama yang disebutka tadi. Dan gilaaaa, itu sampai 300an halaman. Tak apalah, kan hanya cukup baca tentang Mata Pelajaran Akidah-Akhlak.
Sekitar 50 menit, aku kembali balas chat itu.
            Aku: “KMA Nomor 165 tentang Kurikulum PAI dan Bahasa Arab. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk menerapkan dan menghiasi diri dari akhlak terpuji (mahmudah) dan menjauhi serta menghindari diri dari akhlak tercela (mazmumah) dalam kehidupan sehari-hari. Ruang lingkup mata pelajaran akidah-akhlak. Aspek terpuji seperti ikhlas, tobat, tawakkal, sabar, syukur, berilmu, dll. Aspek akhlak tercela seperti riya, hasad, putus asa, takabur, dll. Sedangkan konsep dalam al-Ghazali, ruang lingkup  Mata pelajaran akidah-akhlak dalam peraturan di atas, dibahas oleh Imam al-Ghazali yang meliputi akhlak kepada Allah, diri sendiri (di sini masuklah sifat-sifat seperti riya, dengki, yang harus dijauhi untuk membersihkan diri dari akhlak-akhlak tercela), dan akhlak terhadap orang lain.”
            Aku: “Istilah-istilah akhlak seperti riya, sabar, syukur, hasad, yang pernah say abaca, Bu, itu adalah istilah yang dimunculkan pertama kali oleh Imam al-Ghazali, dan sampai saat ini masih digunakan.”
            Aku: “Ini, Bu dalam peraturan KMA, disebutkan pengenalan tasawuf, sedangkan konsep Imam al-Ghazali ada penerapan ma’rifat, yang jalannya tentu melalui pengenalan tasawud. Jadi, ada keterkaitan di sini, ada relevansi antara peraturan KMA dengan konsep al-Ghazali. Jadi bagaimana, Bu? Bu R**** kemarin sudah tidak ada koreksian lagi dari judul ini, Katanga yang penting jelas ini studi apa, dan sudah ada keterangan studi analisis kitab Ihya Ulumuddin. Jadi tinggal konfirmasi ACC judul dari Ibu, baru kemudian dikasi Dosen Pembimbing.”
            Dekan: “Ibu sarankan langsung bimbingan dengan Bu E** ya.”
Hah? Kalaupun aku mau konsul dengan Dosen, aku pasti akan konsul dengan Dosen yang ngajar akhlak, karena aku sudah katakan dari awal, aku bukan meneliti tentang Undang-Undang, tapi meneliti Pemikiran al-Ghazali. Dan tanpa Undang-Undang inipun skripsi ini tidak akan rancu, tidak akaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan pincang.
Aku sudah tahu arahnya akan kemana, jika sampai aku memberanikan diri untuk konsul lagi. Sudahlah, aku memilih pasrah seketika itu.
Air mataku tiba-tiba saja jatuh, kelelahan, sungguh ini kelelahan yang amat luar biasa.
            Aku: “Tadi saya sudah katakan, Bu. Penelitian ini sudah cukup hanya dengan dokumentasi, penelahaan dari sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan ini, Bu. Seperti karya-karya beliau lainnya di bidang akhlak, karena memang fokus penelitiannya adalah pemikiran tokoh, bukan tentang peraturan pemerintah atau Kemenag. Arahnya akan tidak jelas kalau mau ke Ihya dan Peraturan. Olehnya dipersempit lagi, Bu, Studi analisis kitab Ihya Ulumuddin. Berat ini, Bu. Apalagi langsung ke kitab klasik yang berbahasa arab. Walaupun ada bantuan terjemahan, tetap saja butuh ilmu dasar tentang Nahwu dan Shorof untuk pengembalian dhomir, karena diakui oleh ulama-ulama nahwu, bahwa pengembalian dhomir inilah yang dianggap salah satu paling rumit dalam kitab kuning. Bahkan dikatakan kalau kalian sudah mampu menempatkan dhomir, maka kalian sudah jadi ulama nahwu. Begitu, Bu (dengan emoticon menangis). Kalau dilihat, pasti di setiap angkatan, ada paling banyak 5 orang yang pasti ambil Library Research, dan angkatan ini mungkin Cuma 2 orang, atau 3 orang. Termasuk saya. Supaya penelitian itu bisa bervariasi, ada Field ada Library. Dan ketertarikan saya di sini, Bu, di pemikiran al-Ghazali ini, ditambah dengan semakin sering membuka literature-literatur klasik (kitab kuning), itu melatih juga kaidah-kaidah Nahwu saya yang jarang dipakai selama ini, yang sebagian sedikitnya sudah hampir terlupa.” Di akhir aku cantumkan emoticon menangis.
            Dekan: “Oke, biar lancar. Ke bu E** langsung ya, nanti kalau judul oke, langsung ACC.”
Ini akhirku mungkin. Entahlah, tak bisa berkata-kata lagi. Kubaringkan badan, dengan air mata yang terus saja merembes.
Kenapa tetiba banyak kalimat yang terlupa olehku? Saat itu juga aku langsung kirim WA ke Kaprodi, bagaimana sekiranya jika aku wisuda dan lulusnya tahun depan saja. Tapi beliau sedang tidak enak badan. Jadi belum bisa terlalu banyak mikir, di akhir beliau berpesan supaya aku sabar saja dulu. Nanti di cari solusinya.
Beberapa teman mungkin bersimpati melihat status WA-ku yang sangat sangat tidak baik keadaanku. Tapi ada beberapa yang memilih empati dengan mengomentari status itu.
N**: “Ya, Allah. Fighting. Kita harus wisuda bareng. Pasti ada jalan, Insya Allah. Semangat terus ya. Coba bicarakan baik-baik lagi.”
Aku: “Proposal pertama sudah sangat mengguncang psikologis aku, sekarang ditambah proposal kedua.”
N**: “Ayo bangkit lagi, pasti bisa.”
Aku: “Ini sudah sangat menyentuh wilayah hak kita untuk berkreasi sesuai kemauaun dan kemampuan. Dan kali ini, aku udah gak bisa terima itu lagi. Proposal pertama aku ikhlaskan, tapi mungkin beda dengan proposal kedua ini.”
N**: “Coba aja ke bu E** dulu.”
Aku: “Aku sudah pengalaman, Kak. Kemarin juga seperti itu. Disuruh ke bu R****. Ujung-ujungnya gak diterima. Dan sekarang kenapa harus ke sana? Sedangkan banyak persiapan untuk menjawab tetap saja ditolak, gimana ini. Aku bisa saja ke Bu E**, seandainya fokus penelitianku adalah Peraturan Menteri Agama, tapi ini tidak. Aku sekadar memberikan opsi. Bagaimana jika direlevansikan, karena jika fokus ke peraturan, judul awalku bisa-bisa berubah (dan aku tidak menginginkan itu).”
N**: “Ya Allah. Coba cari judul yang ke lapangan saja, tempat kamu PPKT sekarang.”
Aku: “Aku bukan kehabisan ide, Kak. Bukan gak punya ide. Tapi ketertarikan itu memang ada di sini. Kemauan, minat, dan segala macamnya ada di sini (dan harus kalian tahu, seseorang meneliti adalah salah satunya adalah dorongan keingintahuan itu).”
N**: “Aku paham banget. Kalau gini caranya, mahasiswi dituntut gak kreatif dong ya, gak bisa memberikan ide-ide. Hmmmmm. Coba istikharah dulu. Minta petunjuk, doakan beliau-beliau biar lunak hatinya. Jangan menyerah dulu, pasti ada jalannya. Insya Allah, semangat ya.”
Aku: “Makasih, ya. Aku cuma bisa nangis terus dari tadi.”
N**: “Aku merasakan apa yang kamu rasa. Sabar ya.”
Dan saat tulisan ini ditulis, aku rasanya ingin kembali menangis lagi, hanya saja aku tahan, karena lagi di Sekolah. Gak asik kalau tiba-tiba aku memutuskan menangis di sini.
Ada satu teman yang juga seperti ini, yang chat panjang lebar ke aku. Terus menyemangati agar jangan menyerah.
Aku: “Solusinya aku yang menyerah.”
E***: “Ini bukan solusi menurut aku. Menyerah itu sama kayak putus asa gak sih?”
Aku: “Bukan, Kak. Aku sudah berusaha dan ikhtiar. Dan cuma sampai di sini aku bisa berusaha. Belum sembuh keadaan batinku yang kemarin. Sekarang ditambah yang kedua. Dan aku tidak sekuat itu, Kak. Aku manusia biasa yang akhirnya memilih berhenti dari kelelahan ini.”
Chat-chat itu panjang, tapi hanya kutulis sepenggal saja. Hanya sekadar kalian tahu, bahwa aku sudah benar-benar lelah dengan ini, dengan ketidakjelasan ini.  Aku hanya minta, apakah ada larangan baku ketidakbolehan meneliti dengan jenis penelitian Pustaka? Apakah memang hanya dinilai segampang dan sesimple itu menulis dan menganalisis suatu buku? Tingkat kerumitan itu pasti ada di setiap penelitian. Tapi lagi-lagi aku tanya, apakah sama sekali aku tidak punya hak untuk menentukan arah dan judul tulisanku sendiri? Apakah aku harus dituntut untuk disuapi bahkan dalam masalah memilih judul sekalipun?
Dan yang akan menulis ini adalah aku. Yang akan berkutat dengan skripsi ini aku. Apa yang terjadi jika dari awal bahkan judul tulisanku sendiripun sama sekali tidak kuinginkan, apakah ini tidak akan berdampak dengan jalanku saat menulis nanti? Apakah kejenuhan itu tidak akan menghampiri? Bahkan mengerjakan sesuatu yang disukai pun akan ada kejenuha, bagaimana jika memang hal itu bukan keinginan dari kita? Jika kalian pernah belajar psikologi, coba pikirkan keadaan psikologi seorang anak yang dipaksa untuk menjalani sesuatu yang tidak diinginkannya.
Dan lagi-lagi, dengan sekian kali aku katakan, silahkan menilai sehak kalian. Menilai aku tidak dewasa dan apapun itu. Aku punya Tuhan, aku punya Allah, yang kutempati untuk mengadu, kutempati untuk minta petunjuk, dan kutempati untuk berpasrah diri dari usahaku yang (mungkin saja) cukup sampai di sini.
Aku akhiri tulisan ini dengan kalimat yang hampir sama dengan tulisan pertama; Kamu akan dikenang selamanya, jika berhasil membuat seorang penulis terkesan dengan kebaikanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KETIDAKMENGERTIANKU TENTANG SEMUA INI Part 2

Jika kamu pernah terluka karena sesuatu, kamu pasti tahu berapa lama pula waktu yang pernah kamu butuhkan untuk bangkit dari sana. Belum ...