Jumat, 01 Maret 2019

KETIDAKMENGERTIANKU TENTANG SEMUA INI


Sampai saat ini, aku belum juga mengerti letak kesalahan skripsiku di mana. Skripsi dengan judul, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Islami dalam Novel Api Tauhid Karya Habiburrahman El-Shirazy” sudah beberapa kali ditolak. Dan paling menyedihkannya lagi adalah skripsi itu sudah diobrak abrik oleh dosen penguji dalam bentuk proposal, sudah beberapa kali revisi, dan diluluskan, sebelum akhirnya dikirim lewat WA ke Dekan untuk minta ACC. Jika kalian bertanya untuk apa Dekan campur tangan di sini, silahkan pikir sendiri. Tibalah saya memulai chat WA, mengirim bukti lulus ujian dan cover skripsi.
Saya: “Assalamualaikum. Saya N**** yang ujian proposal di Bu L***. Kemarin diminta persempit judul karena lingkup Pendidikan Islam terlalu luas dan terlalu banyak pembahasan, jadi diminta revisi sama Bu L*** jadinya Pendidikan Akhlak.”
        Begitulah bunyi kalimatku untuk memulai percakapan. Jawabannya cukup singkat, dan itu membuatku rapuh dengan seketika.
       Dekan: “Kelapangannya gak ada ya? Coba cari bahan penelitian lain.”
          Saya: “Gak, Bu. Saya tertarik untuk meneliti ini, dikarenakan banyaknya bacaan bacaan yang sekrang ini hanya mengedepankan alur cerita tanpa penyisipan nilai-nilai pendidikan, utamanya akhlak di dalamnya, karena berbobotnya suatu karya sastra adalah tergantung bagaimana penyisipan nilai-nilai Islam di dalamnya, dan salah satu karya sastra yang sangat banyak ibrah di dalamnya adalah novel ini. Jadi, ini bukan sekadar novel kosong. Bahkan penulisnya sendiri meneliti dari tahun 1997 sampai tahun 2012 demi untuk mendapatkan fakta-fakta yang sesuai dengan yang sebenarnya. Bahkan pula penulisnya berkeliling Turki (22 Juni 2012 – 1 Juli 2012) untuk mendatangi tempat tokoh ulama yang ada dalam cerita novel ini.”
      Dan lagi-lagi jawabannya singkat, dan tentu saja menjadi tanda tanya besar, tidak serta merta bisa diterima dengan akal sehatku.
      Dekan: “Coba konsul dulu dengan Bu R****. Pertimbangkan karena novel lebih cocok untuk jurusan Sastra.”
       Saya: “Ada beberapa skripsi yang saya dapat, dan juga meneliti novel Api Tauhid ini, tapi jurusan Sastra itu bukan meneliti Nilai-Nilai Pendidikan Islam/Akhlaknya, tapi mereka meneliti dari segi gaya bahasa dan semacamnya. Ada juga yang meneliti dari jurusan Dakwah, dia meneliti segi pesan Dakwahnya. Dikarenakan saya jurusan Pendidikan (Tarbiyah) jadi penelitiannya difokuskan ke pendidikan juga, utamanya akhlak. Banyak, Bu yang meneliti ini, bahkan ada yang sampai menjadikannya sebagai Tesis. Banyak nilai pendidikan islam yang bisa diteliti dalam novel ini, karena suatu karya biasanya terpengaruh dari latar belakang pendidikan penulisnya. Sedangkan penulisnya adalah alumni Al-Azhar, yang notabenenya mengerti tentang syariat Islam.”
       Dekan: “Coba fotoin semua, kirim ke Ibu, yang ada catatan dosen penguji.”
     Akhirnya, aku kirimkan semua foto lembaran-lembaran yang terdapat catatan dari dosen penguji, dan aku jelaskan sebagaimana di awal. Bahwa judul ini dipersempit menjadi pendidikan Akhlak, olehnya beberapa kalimat yang masih ada Pendidikan Islamnya diganti dengan akhlak, termasuk outline yang jadinya masuk ke kajian Teori bab 2 adalah pembahasan tentang akhlak islami.
            Dekan: “Oke saya tampung dulu. Nanti Ibu bahas dulu dengan tim. Besok menghadap Kaprodi (Bu R****), sudah saya bilang.”
            Dekan: “Baik, Bu.”
          Aku mengakhiri percapakan itu. Di satu sisi ada perasaan legah, mungkin saja semua argumenku diterima dan mau dipertimbangkan karena tidak ada lagi sanggahan. Tapi di sisi lain perasaan cemas untuk menghadapi hari esok menjadi bayang-bayang pula. Kecemasan bahwasanya bisa saja Dekan meminta Kaprodi untuk tidak meluluskan judulku. Yah itu bisa saja terjadi. Apakah ini bagian dari prasangka buruk? Entahlah, pikiran itu muncul tiba-tiba.
     Segala macam pertanyaan masih terus muncul, Ada apa aku diminta menghadap ke Kaprodi? Dalam arti ke bawahannya. Okelah, tidak masalah. Jikalaupun harus mengulang perbincangan yang lewat WA semalam, aku sudah siap dengan segala jawabanku.
       Jam 2 siang, aku ke kampus menghadap Kaprodi, mengeluarkan proposal skripsi yang sebelum dan sesudah revisi. Tampaknya beliau sudah mengerti dan paham, masalahku di mana menghadap beliau. Yah bisa saja seperti yang kukatakan tadi, sudah dapat WA dari Dekan untuk tetap tidak meluluskan saya.
            Kaprodi: “Mohon maaf kami tidak lagi mengarahkan mahasiswa untuk Penelitian Kepustakaan, kami lebih mengarahkan kalian untuk pengalaman di lapangan, karena pada akhirnya kalian akan jadi guru nanti.”
            Aku diam, tidak menjawab. Bukan berarti aku menerima alasan itu. Itu bukan suatu alasan untuk dijadikan bahan penolakan dari judul ini. Sebagai orang pendidikan seharusnya mengerti setiap perbedaan yang ada pada anak didik, terutama perbedaan kemauan dan segala macam perbedaan lain.
            Kaprodi: “Kamu tidak bisa meneliti ini, karena penulisnya masih hidup. Kamu bisa datang langsung ke Habiburrahman untuk wawancara? Tidak, kan?”
            Saya: “Penelitian saya adalah penelitian kepustakaan, Bu.”
Kaprodi: “Iya, tapi tetap harus ada wawancara.”
Saya: “Gak, Bu. Banyak skripsi-skripsi yang tidak melakukan wawancara.”
Kaprodi: “Dari judul saja kamu sudah salah, di sini tidak perlu ada tambahan islami, akhlak yah islami dari Islam.”
Saya: “Di buku Akhlak Tasawuf ada bab sendirinya, Bu. Di situ memang tertulis akhlak islami.”
Buku Akhlak Tasawuf, karya Abuddin Nata. Kalau saja ingin kusebut.
Perbincangan ini berlangsung agak lama, hanya membahas penelitian kepustakaan. Dan akhirnya kembali lagi, bahwa tidak bisa melakukan penelitian kalau penulisnya masih hidup.
Saya: “Jika memang penulisnya harus meninggal dulu, tidak mungkin Universitas-Universitas luar membolehkan mahasiswanya untuk meneliti ini (Sekelas UIN Malang, UIN Jogja, bahkan UIN tetangga ‘UIN Jakarta’ aja meneliti ini, kalimat ini tidak kukeluarkan, hanya dalam hati saja. Jika memang beliau mau teliti, seharusnya saat itu juga langsung searching di Google tentang skripsi yang sama dengan judul saya.)”
Beliau tidak menjawab sanggahan itu, dan dari situ suatu kesimpulan dapat aku ambil, bahwa tidak ada aturan baku jika ingin meneliti suatu Novel maka penulisnya harus meninggal dulu. Dan demi Allah demi Tuhanku dan Tuhan Seluruh Alam, ini baru pertama kali aku mendengar dan mendapatkan informasi ini.
Akhirnya kembali lagi, meskipun penelitian kepustakaan harus ada wawancara. Yah, aku masih belum bisa menerima itu.
Saya: “Gak, Bu. Ada yang tanpa wawancara.”
Kaprodi: “Mana?”
Saya: “Itu, Bu. Di bagian Tinjauan Pustaka, semuanya tidak ada wawancara.” Sambil kutunjukkan dalam proposal Skripsi.
Beliau terlihat memerhatikan Tinjaun Pustaka itu, beberapa detik diam.
Kaprodi: “Kenapa kamu mau mengambil judul ini? atas dasar masalah apa?
Saya: “Melihat bacaan sekarang banyak yang hanya mengedepankan alur cerita, tanpa ada penyisipan nilai-nilai pendidikan di dalamnya.”
Kaprodi: “Darimana kamu mendapatkan data itu? Dari pendapat sendiri?”
Saya: “Dari Jurnal, Bu.”
Dengan siapa kamu berbicara dan berhadapan, akan sangat mudah membaca raut wajah seseorang tentang kebingungannya lagi untuk menyampaikan apa. Beliau menjelaskan sesuatu, tapi aku benar-benar tidak mengerti itu, olehnya tidak aku cantumkan dalam percakapan ini. Tapi tetap pada intinya, tidak juga bisa kuterima sebagai alasan penolakan.
Kaprodi: “Nah, kamu harus meneliti ke siswa-siswa, yang tertarik dengan novel ini, pengaruhnya seperti apa. Jangan hanya berasumsi sendiri bahwa novel ini bagus dan ini itu.”
Saya: “Gak mungkin, Bu bisa jadi Best Seller kalau misalnya peminatnya sedikit.”
Kaprodi: “Iya saya tahu.”
Tapi, Bu? Pertanyaan ini cukup hatiku dan pembaca yang tanyakan.
Kaprodi: Kemarin ada tuh yang penelitian pustaka juga, tapi dia bisa meneliti itu, karena sudah meninggal, Imam al-Ghazali.
Jika pada saat itu aku ingin menjatuhkan Dosen mungkin aku akan lakukan. Percakapan sebelumnya, percakapan awal bahwasanya tidak membolehkan lagi melakukan penelitian kepustakaan dijawab sendiri dan diingkari sendiri di sini. Pemikiran al-Ghazali adalah penelitian kepustakaan. Jadi permasalahan dari judulku ini apa?
Sempat dijawab bahwa penelitian novel ini bukan masuk ke dalam penelitian kepustakaan. Lalu, dosen pembimbing dan penguji dari UIN Malang, UIN Lampung, UIN Jakarta, UIN Jogjakarta, semuanya tidak paham dan keliru karena telah meluluskan ujian Skripsi mahasiswanya yang meneliti novel ini dengan jenis penelitian kepustakaan?
Lagi-lagi, andai saja aku tidak punya belas-kasih, mungkin akan kulemparkan pernyataan itu.
Di sisi lain ada perasaan bahagia dan senang. Mendengar penelitian tentang Imam al-Ghazali diterima. Berhubung proposal kedua yang kusiapkan adalah meneliti tentang Konsep Pendidikan Akhlak dalam Perspektif Imam al-Ghazali studi analisis kitab Ihya’ Ulumuddin.
Tapi tetap saja, aku masih butuh suatu alasan masuk akal untuk penolakan ini.
Saya: “Kalau meneliti Imam al-Ghazali boleh, Bu?”
Kaprodi: “Boleh, karena Imam al-Ghazali sudah meninggal.”
Yaelah, masa harus alasan itu lagi untuk pembolehan dan penolakan. Aturan baku darimanaaaaaaaaaaaaaa? Teriakku dalam hati.
Kaprodi: “Kamu ada judul lain gak?”
Saya: “Ada, Bu.”
Kaprodi: “Judulnya apa?”
Saya: “Sama dengan yang tadi, Imam al-Ghazali.”
Kaprodi: “Coba mana saya lihat.”
Aku buka ponselku, kebetulan ada fotonya, beserta outlinenya. Dan kuserahkan ke beliau.
Kaprodi: “Ini bisa, karena ada kalimat studi analisis. Dan orangnya sudah meninggal.”
Kutunjukkan lagi outlinenya. Beliau terlihat manut-manut, dan menyetujui semua yang ingin kutulis di proposal itu. Sambil tetap meminta aku tunjukkan Tesis dengan judul serupa dan jenis penelitian kepustakaan yang tanpa ada wawancara. Aku menyanggupi untuk membawa Tesis itu di lain waktu. Tapi tetap saja, dengan kalimat yang menunjukkan bahwa Skripsi novel ini tidak bisa dilanjutkan walaupun tidak dengan bahasa langsung.
Siapapun berhak untuk menghakimi diriku sebagai mahasiswa kepala batu atau selainnya. Tapi bersikap bijaklah dalam menyikapi. Sangat beralasan aku menyampaikan pendapat, dan itu adalah hakku sebagai warga negara Indonesia yang punya hak bersuara.
Ini bukan suatu pencemaran nama baik, karena suatu tulisan akan dinilai melanggar jika di dalamnya mengandung adu domba, konflik, SARA, dan sejenisnya. Ini hanya segelintir kecil perwakilan suara yang mempunyai nasib sama denganku, dengan segala upaya aku coba mendamaikan hati dan pikiranku untuk menerima semua ini, tapi tetap saja, bahkan aku tidak tahu kapan aku bisa melupakan ini. Jadi, tolong jangan bersikap subjektif dalam menghakimi seseorang.
Aku akhiri cerita ini dengan kalimat yang sudah sangat familiar; jangan coba-coba menyakiti seorang penulis jika kamu tidak ingin abadi dalam karyanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KETIDAKMENGERTIANKU TENTANG SEMUA INI Part 2

Jika kamu pernah terluka karena sesuatu, kamu pasti tahu berapa lama pula waktu yang pernah kamu butuhkan untuk bangkit dari sana. Belum ...